ratusan kepik mengepik-ngepik di nirwana
pekaknya basahi udara
setetes liur jatuh ketanah
tak apa kedipnya cukup bungkam ini mulut
Monday, 27 October 2008
Saturday, 20 September 2008
BERJUANG
ide gila lari kesana kemari
ada tangan julur di angkasa
coba raih tapi tiada terjangkau
lompat melompat tak karuan
akhirnya bisa tergenggam
trus simpan di kantong biar awet disana
maka
berhembuslah pelan-pelan sangat pelan sampai tak terasa
biarkan semilir saja tertawa
kita diam tak bising
biar gemuruh saja yang bicara
kita desah mendesah saja
ya...
jangan riuh
pelan-pelan diam-diam kita sulam ini asa jadi bara
kemudian lempar ke udara
agar terang sinari kepala
ada tangan julur di angkasa
coba raih tapi tiada terjangkau
lompat melompat tak karuan
akhirnya bisa tergenggam
trus simpan di kantong biar awet disana
maka
berhembuslah pelan-pelan sangat pelan sampai tak terasa
biarkan semilir saja tertawa
kita diam tak bising
biar gemuruh saja yang bicara
kita desah mendesah saja
ya...
jangan riuh
pelan-pelan diam-diam kita sulam ini asa jadi bara
kemudian lempar ke udara
agar terang sinari kepala
Friday, 19 September 2008
ADZAN
sound kejar mengejar sampai gendang
papar jelas alun indah
lantun asma-MU
Subbhanallah...
mata memerah semerah hati
pekur tiada apa
raga bertasbih
Ya ALLAH
Ya Robbi
ampuni aku
papar jelas alun indah
lantun asma-MU
Subbhanallah...
mata memerah semerah hati
pekur tiada apa
raga bertasbih
Ya ALLAH
Ya Robbi
ampuni aku
Tuesday, 19 August 2008
EGP
Lunglaimu tak gapai ini badai
Gemuruh talu menalu beradu adu
Tak jua tengokmu rayu gelisah
S'makin ruah saja ini gelora
Alirnya cari jejak tertinggal di belukar
Sia-sia adalah akhirnya
Sekarang
Sepat kecap mengecap
Puas lihat sang lebah bergelut maut
Dan gemuruh masih saja beradu adu menalu nalu
tak peduli pekak gantung di udara
tak peduli semesta sungsang
tak peduli semburan naga
tak peduli
benar-benar tak peduli
terus bertalu-talu
terus beradu adu
Gemuruh talu menalu beradu adu
Tak jua tengokmu rayu gelisah
S'makin ruah saja ini gelora
Alirnya cari jejak tertinggal di belukar
Sia-sia adalah akhirnya
Sekarang
Sepat kecap mengecap
Puas lihat sang lebah bergelut maut
Dan gemuruh masih saja beradu adu menalu nalu
tak peduli pekak gantung di udara
tak peduli semesta sungsang
tak peduli semburan naga
tak peduli
benar-benar tak peduli
terus bertalu-talu
terus beradu adu
Saturday, 26 July 2008
LAPAR .. HIIKKSSS
perut menari
lapar gelayut gerogot
tak setali tiga pun berkocek
padahal matahari hampir belai bumi
berharap dewi arjuna bawa bekal ini hari
tapi sedari pagi ketuknya tak jua talu
haruskah kujual beberapa bait lagu
agar ku bisa duduk nyaman diwarung nasi bu kenyang
dari pada busung lapar
ada baiknya kubertandan saja keperaduannya
mungkin disana sudah tersedia remah asa
siap kubawa pulang tuk teman nanti malam
KETIDAK BERDAYAAN
di kejauhan
kulihat anak kecil bermandi peluh
ditangannya sekeranjang bunga tebarkan wangi-wangi
sayup-sayup
ku dengar desir nada berlari dari bibirnya
nyanyikan tembang irama tak tentu
sekarang
wajahnya jelas terlihat
ada noda lelah disana
lukisan tarian tadi malam dimana kantuk bukanlah sahabat
begitu hebatnya engkau
lampaui waktu sekali kayuh
sedang aku berenang tanpa peluh
itupun tak buatku sadar
bahwasanya hidup cuma sebentar
kulihat anak kecil bermandi peluh
ditangannya sekeranjang bunga tebarkan wangi-wangi
sayup-sayup
ku dengar desir nada berlari dari bibirnya
nyanyikan tembang irama tak tentu
sekarang
wajahnya jelas terlihat
ada noda lelah disana
lukisan tarian tadi malam dimana kantuk bukanlah sahabat
begitu hebatnya engkau
lampaui waktu sekali kayuh
sedang aku berenang tanpa peluh
itupun tak buatku sadar
bahwasanya hidup cuma sebentar
MENTOK
tak berwujud
tapi berbentuk
tak bersuara
tapi terdengar
tak berakhir
tapi selesai
bolak-balik ku cari kata sesuai
prosanya makin berantakan
ulang-mengulang kata hiasi setiap rangkai bait
tolol.....
otak ini tumpul...
sebentar lagi mengepul
harusnya kusudahi semua
tapi jemari ini paksa terus berkutat
terkutuklah kau layar putih
mengapa tak kau padamkan cahyamu
biar kuberhenti ratapi diri
tapi berbentuk
tak bersuara
tapi terdengar
tak berakhir
tapi selesai
bolak-balik ku cari kata sesuai
prosanya makin berantakan
ulang-mengulang kata hiasi setiap rangkai bait
tolol.....
otak ini tumpul...
sebentar lagi mengepul
harusnya kusudahi semua
tapi jemari ini paksa terus berkutat
terkutuklah kau layar putih
mengapa tak kau padamkan cahyamu
biar kuberhenti ratapi diri
Subscribe to:
Posts (Atom)
My Anthology by Stevy Towoliu is licensed under a Creative Commons Attribution-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at stevyanthology.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://stevyanthology.blogspot.com/.