Lunglaimu tak gapai ini badai
Gemuruh talu menalu beradu adu
Tak jua tengokmu rayu gelisah
S'makin ruah saja ini gelora
Alirnya cari jejak tertinggal di belukar
Sia-sia adalah akhirnya
Sekarang
Sepat kecap mengecap
Puas lihat sang lebah bergelut maut
Dan gemuruh masih saja beradu adu menalu nalu
tak peduli pekak gantung di udara
tak peduli semesta sungsang
tak peduli semburan naga
tak peduli
benar-benar tak peduli
terus bertalu-talu
terus beradu adu
Tuesday, 19 August 2008
Saturday, 26 July 2008
LAPAR .. HIIKKSSS
perut menari
lapar gelayut gerogot
tak setali tiga pun berkocek
padahal matahari hampir belai bumi
berharap dewi arjuna bawa bekal ini hari
tapi sedari pagi ketuknya tak jua talu
haruskah kujual beberapa bait lagu
agar ku bisa duduk nyaman diwarung nasi bu kenyang
dari pada busung lapar
ada baiknya kubertandan saja keperaduannya
mungkin disana sudah tersedia remah asa
siap kubawa pulang tuk teman nanti malam
KETIDAK BERDAYAAN
di kejauhan
kulihat anak kecil bermandi peluh
ditangannya sekeranjang bunga tebarkan wangi-wangi
sayup-sayup
ku dengar desir nada berlari dari bibirnya
nyanyikan tembang irama tak tentu
sekarang
wajahnya jelas terlihat
ada noda lelah disana
lukisan tarian tadi malam dimana kantuk bukanlah sahabat
begitu hebatnya engkau
lampaui waktu sekali kayuh
sedang aku berenang tanpa peluh
itupun tak buatku sadar
bahwasanya hidup cuma sebentar
kulihat anak kecil bermandi peluh
ditangannya sekeranjang bunga tebarkan wangi-wangi
sayup-sayup
ku dengar desir nada berlari dari bibirnya
nyanyikan tembang irama tak tentu
sekarang
wajahnya jelas terlihat
ada noda lelah disana
lukisan tarian tadi malam dimana kantuk bukanlah sahabat
begitu hebatnya engkau
lampaui waktu sekali kayuh
sedang aku berenang tanpa peluh
itupun tak buatku sadar
bahwasanya hidup cuma sebentar
MENTOK
tak berwujud
tapi berbentuk
tak bersuara
tapi terdengar
tak berakhir
tapi selesai
bolak-balik ku cari kata sesuai
prosanya makin berantakan
ulang-mengulang kata hiasi setiap rangkai bait
tolol.....
otak ini tumpul...
sebentar lagi mengepul
harusnya kusudahi semua
tapi jemari ini paksa terus berkutat
terkutuklah kau layar putih
mengapa tak kau padamkan cahyamu
biar kuberhenti ratapi diri
tapi berbentuk
tak bersuara
tapi terdengar
tak berakhir
tapi selesai
bolak-balik ku cari kata sesuai
prosanya makin berantakan
ulang-mengulang kata hiasi setiap rangkai bait
tolol.....
otak ini tumpul...
sebentar lagi mengepul
harusnya kusudahi semua
tapi jemari ini paksa terus berkutat
terkutuklah kau layar putih
mengapa tak kau padamkan cahyamu
biar kuberhenti ratapi diri
BERDAMAI DENGAN HATI
senyummu belai sukma
ciptakan rasa getarkan raga
semestinya ada kata terucap
tapi.. tatapmu pukau sanubari
kutahu hatimu bergelora
tak cukup sepasukan elang tenangkan itu
maka
genggam ini asa
agar damai bersemayang di gugusan jiwa
ciptakan rasa getarkan raga
semestinya ada kata terucap
tapi.. tatapmu pukau sanubari
kutahu hatimu bergelora
tak cukup sepasukan elang tenangkan itu
maka
genggam ini asa
agar damai bersemayang di gugusan jiwa
YA ROBB ..

Aku mencintaiMU ya Robbi
Penuhilah hati ini dengan namaMU
Penuhilah raga ini dengan cintaMU
Aku mencintaiMu ya Robbi
Hingga matahari tak mampu lihat ini cinta
Hingga gemintang menyusup pergi lihat indah ini cinta
Dan rembulanpun terpaku lihat lembut ini cinta
Aku mencintaiMu ya Robbi
Aku mencintaiMU ya Robb
Ketulusan selimuti aku
Ketulusaan akan ketulusanMU
Keikhlasan selimuti aku
Keikhlasan atas keikhlasanMU
Aku MencintaiMu ya Robb
Cinta akan keikhlasan dan ketulusanMU mencintaiku
I love You...Robbi
filled this heart with Your name
filled this body with Your love
I Love You...Robbi
as far as the sun could not see this love
Through To full star infiltrated went saw beautiful this love
And the motionless also moon saw soft this love
I love You Robbi
really.. I love You Robb
Sincerity covered me
honesty would You honesty
the Sincerity covered me
the upper your Sincerity
I love You Robb
the Love would the sincerity and your honesty love me
UNTUK MU AYAH
Kemarin…
Bubuk rindu tlah ku sebar di cakrawala
Agar senyum menyimpul di dermaga diri
Hingga begisnya sang waktu tak hadirkan sedih
Dan saat ini…
Tegar genggam raga siap arungi hari
Datanglah citaku agar terangkai indahnya hari di wajah senja
Tak apalah terselip setitik bangga di kalbunya
Biar tak ada lagi kerikil-kerikil hiasi teras hati
Subscribe to:
Posts (Atom)
My Anthology by Stevy Towoliu is licensed under a Creative Commons Attribution-No Derivative Works 3.0 Unported License.
Based on a work at stevyanthology.blogspot.com.
Permissions beyond the scope of this license may be available at http://stevyanthology.blogspot.com/.